Sabtu, 04 April 2015

On 23.10 by Inter Delta in


KONDISI PEREKONOMIAN
 Akselerasi pemulihan ekonomi nasional terus berlanjut di tahun 2011. Pertumbuhan diperkirakan mencapai 6,5% meningkat dari 6,1% pada tahun sebelumnya. Di sisi lain tingkat inflasi dapat ditekan hingga mencapai 3,7% atau lebih rendah dibanding inflasi tahun 2010 (6,96%). Sementara itu nilai tukar Rupiah mengalami sedikit tekanan terutama pada semester kedua di tahun 2011, sehingga pada akhir tahun nilai tukar Rupiah ditutup pada level Rp. 9.068 per 1 USD dan Rp. 118,60 per 1 JPY. Sementara pada akhir tahun 2010 nilai tukar Rupiah berada pada posisi Rp.8.991,- dan Rp. 110,27 per 1 JPY.

Kinerja Perseroan 2011
Pada tahun 2010 manajemen telah mengambil langkah yang cukup strategis melalui konversi hutang menjadi saham dalam perusahaan yang telah disetujui

  
oleh RUPSLB tanggal 28 Juni 2010. Keputusan melakukan konversi ini memberikan dampak sangat positif bagi kinerja Perseroan di tahun 2011.
Pada tahun 2011 Perseroan membukukan penjualan sebesar Rp. 110,06 milyar atau naik Rp. 28,62 milyar dibanding penjualan tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp. 81,43 milyar atau naik sebesar 35,15%.
Kontribusi terbesar dari penjualan pada tahun ini adalah penjualan kertas cetak foto, dimana penjualan pada segmen ini mencapai Rp. 64,34 milyar atau sebesar 58,46% dari total penjualan. Penjualan pada segmen ini meningkat cukup signifikan yaitu sebesar Rp. 41,8 milyar atau sebesar 185,49% dibanding tahun lalu. Kontinuitas ketersediaan barang dagangan menjadi kunci peningkatan penjualan pada segmen ini.
Segmen usaha yang memberikan kontribusi terbesar kedua adalah segmen usaha Film. Segmen usaha ini membukukan penjualan sebesar Rp. 23,4 milyar atau memberikan kontribusi sebesar 21,27%  dari total penjualan 2011. Penjualan segmen usaha ini mengalami penurunan sebesar Rp. 6 milyar atau sebesar 20,48% dibanding penjualan tahun lalu yang mencapai Rp.29,4 milyar. Persaingan harga dan perkembangan teknologi mempunyai andil dalam penurunan penjualan segmen usaha ini.

  
Selanjutnya segmen usaha bahan kimia dan segmen lainnya memberikan kontribusi sebesar 9,23% dan 11% dari total penjualan tahun 2011.
Biaya – biaya
Pada tahun 2011 beban biaya penjualan, umum dan administrasi mengalami kenaikan sebesar Rp. 1,7 milyar atau sebesar 11,47%. Dampak dari peningkatan penjualan di tahun 2011 adalah naiknya biaya operasional yang menjadi beban perseroan. Pos-pos biaya yang mengalami peningkatan pada pokoknya adalah biaya gudang dan distribusi serta biaya telekomunikasi. Selain itu akun biaya operasi lainnya yang dibukukan sebesar Rp. 838 juta.
Namun demikian perlu dicatat juga bahwa dengan naiknya penjualan perseroan yang berarti juga meningkatnya pembelian barang dagangan kepada principal, telah mengakibatkan naiknya pendapatan dalam bentuk rabat yang diterima perseroan dari principal. Rabat ini disajikan sebagai akun Pendapatan Operasi Lainnya yang naik sebesar Rp. 2,1 milyar atau sebesar 138% dari Rp. 1,54 milyar di tahun 2010 menjadi Rp. 3,67 milyar di tahun 2011.
Sehingga secara total biaya operasi tahun 2011 mengalami kenaikan sebesar Rp. 415 juta atau sebesar 3,12%.
Lebih jauh, peningkatan penjualan dan laba kotor yang lebih besar dibanding kenaikan biaya yang menjadi beban tahun ini mengakibatkan kenaikkan laba

  
komprehensif perseroan dari Rp. 1,99 milyar di tahun 2010 menjadi Rp. 6,28 milyar di tahun ini atau naik sebesar Rp. 4,28 milyar (214,46%).
Neraca
Akun jumlah aset serta jumlah liabilitas dan ekuitas pada 31 Desember 2011 naik sebesar 34,62% dibanding 31 Desember 2010, atau naik sebesar Rp. 14,74 milyar yaitu dari Rp. 42.587.142.850 pada tahun 2010 menjadi Rp. 57.331.064.895 pada tahun 2011.
Kenaikan akun-akun ini pada dasarnya dipengaruhi oleh mambaiknya kinerja perseroan pada tahun 2011. Fasilitas cerukan yang diperoleh dan telah mengakibatkan naikknya Utang Bank sebesar Rp. 12,85 milyar. Selanjutnya fasilitas ini telah Perseroan manfaatkan untuk menjamin ketersediaan persediaan barang dagangan dan untuk melunasi sebagian Utang Usaha. Sehingga pada akhir tahun 2011 persediaan barang dagangan naik sebesar Rp. 5,5 milyar atau sebesar 23% dibanding dengan persediaan barang dagangan pada akhir tahun 2010, sementara Utang Usaha tahun 2011 turun sebesar 30,5% atau sebesar Rp. 6,95 milyar yaitu dari Rp. 22,79 milyar di tahun 2010 menjadi Rp. 15,84 milyar di tahun 2011.

  
Peningkatan penjualan sebesar Rp. 28,6 milyar mengakibatkan kenaikan pada pos Piutang Usaha sebesar Rp.12,4 milyar. Selanjutnya peningkatan penjualan ini berdampak pada Laba Kotor, Laba Usaha dan Laba Bersih Perseroan. Kenaikan Ekuitas Perseroan bersumber dari Laba Bersih Perseroan tahun 2011 sebesar Rp. 6,28 milyar.
Dengan demikian rasio-rasio keuangan perseroan juga menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik seperti current ratio tahun 2011 meningkat menjadi 168,4% dibanding tahun sebelumnya 158,17%; Return on Asset ratio 10,95% dibanding tahun lalu sebesar 4,69%; debt to Equity ratio menjadi 272,5% dibanding tahun lalu sebesar 367,2%.
Namun demikian perlu dicatat meskipun selama dua tahun berturut-turut perseroan mampu membukukan laba bersih, namun sampai saat ini perseroan masih membukukan saldo laba negatif (deficit) sehingga sesuai peraturan perundang-undangan perseroan belum diperbolehkan untuk membagikan deviden.
Kinerja Triwulan I 2012
Penjualan Perseroan pada periode tiga bulan pertama tahun 2012 naik sebesar 25,89% atau sebesar Rp. 4,16 milyar dibanding periode yang sama tahun 2011.

  
Kenaikan penjualan secara total ini dudukung oleh naiknya penjualan pada segmen usaha kertas cetak foto sebesar 75% atau naik sebesar Rp. 6,1 milyar sehingga pada triwulan I 2012 penjualan segmen ini dibukukan sebesar Rp. 14,17 milyar.
Sedang penjualan film mengalami penurunan sebesar Rp. 2,5 milyar atau turun sebesar 53,27% dibanding tahun lalu.
Seiring dengan kenaikan total penjualan, Laba bersih perseroan juga mengalami peningkatan menjadi Rp. 1,89 milyar pada periode Januari – Maret 2012 ini dibanding periode yang sama tahun lalu yang dibukukan sebesar Rp. 290 juta atau naik sebesar Rp. 1,6 milyar.
Dan naiknya penjualan berpengaruh pada naiknya arus kas masuk dari aktivitas operasi.
Dengan bertambahnya arus kas ini, fasilitas overdraft yang dimanfaatkan pada 31 Maret 2012 hanya sebesar Rp. 4,65 milyar sedang pada 31 Desember 2011 pemanfaatan fasilitas ini sebesar Rp. 12,85 milyar.  Sehingga pos Total Liabilitas mengalami penurunan sebesar Rp. 9,3 milyar yaitu dari Rp 41,94 milyar pada 31 Desember 2011 menjadi Rp.32,64 milyar pada 31 Maret 2012 atau turun sebesar 20% dibanding Laporan Keuangan Tahunan Auditan terakhir.

  
Prospek 2012
Peluang dan tantangan selalu terbuka di setiap tahun, begitu juga tahun 2012. Pertumbuhan ekonomi domestik tahun 2012 diperkirakan pada kisaran 6,3%-6,7% sedang inflasi ditargetkan sebesar 4,5% ± 1%.
Terjaganya stabilitas ekonomi sangat tergantung pada kondisi perekonomian global terutama imbas dari krisis keuangan di Eropa. Manajemen tetap berharap stabilitas perekonomian nasional dapat dijaga di tahun 2012 ini sehingga kondusif untuk pengembangan usaha.
Ditahun 2012 ini, perseroan akan tetap melanjutkan program-program yang telah dilakukan di tahun sebelumnya, baik untuk program pemasaran, operasional maupun program peningkatan kapabilitas karyawan melalui pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan baik internal maupun eksternal.
Perseroan juga akan terus mencermati setiap perkembangan terutama dunia usaha yang berkaitan dengan usaha perseroan seperti perkembangan teknologi dan perubahan harga. Dengan demikian perseroan akan lebih siap dan lebih mempunyai daya saing yang semakin kuat menghadapi tantangan di masa mendatang.